Senin, 09 Februari 2015

SANDI MORSE


Kode Morse atau 'Sandi Morse' adalah sistem representasi huruf, angka, tanda baca dan sinyal dengan menggunakan kode titik dan garis yang disusun mewakili karakter tertentu[1] pada alfabet atau sinyal (pertanda) tertentu yang disepakati penggunaannya di seluruh dunia. Kode Morse diciptakan oleh Samuel F.B. Morse dan Alfred Vail pada tahun 1835.
Kode Morse

Perkembangan[sunting | sunting sumber]

Awal penggunaan[sunting | sunting sumber]

Kode morse pertama kali digunakan secara luas setelah teknologi radio datelegrafi berkembang pesat di akhir abad ke-19. Pada awal-awal penggunaannya kode morse dipakai untuk pengiriman pesan antara dua tempat yang terpisah jauh dengan menggunakan teknologi radio CW (constant wave) atau gelombang tetap sebelum ditemukannya komunikasi radio dengan suara. Hal ini dikarenakan radio pada masa awalnya masih pada penggunaan gelombang rendah, yang tidak mampu mengirimkan gelombang suara, namun dapat mengirimkan bunyi sederhana seperti bunyi panjang-pendek dari kode morse.
Kode morse tidak lagi dipergunakan sebagai modul komunikasi resmi Angkatan Laut internasional pada tahun 1997 dan diganti dengan sistem GMDSS yang menggunakan satelit, bukannya gelombang radio, namun sampai saat ini kode morse masih aktif digunakan dalam komunikasi jarak jauh antar kapal laut atau menara darat internasional.

Penggunaan sipil[sunting | sunting sumber]

Tombol transmisi morse tipe satu tombol. Model ini umum digunakan sejakPerang Dunia ke-2. Kini model varian dua tombol (masing-masing untuk titik dan garis) lebih umum digunakan dalam pengiriman kode morse.
Pada masa awal perkembangannya hingga pertengahan abad ke-20, kode morse yang dikirim melalui telegraf adalah media komunikasi yang jangkauannya terluas dan tercepat, dan menjadi sarana utama pengiriman berita di kantor-kantor pos di seluruh dunia hingga saat telepon menjadi populer di masyarakat. Namun hingga saat ini, radio amatir (radio non pemerintah, komersial maupun militer), termasuk ORARI Indonesia masih aktif menggunakan kode morse baik untuk berkomunikasi maupun berpartisipasi dalam kontes[2].
Kode morse juga masih dicantumkan dalam pedoman radiotelepon Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), walaupun hanya digunakan dalam keadaan tertentu saja. Pelayaran sipil juga masih menggunakan kode morse untuk komunikasi jarak jauh.
Sinyal yang paling umum disepakati dan digunakan dalam Kode Morse adalah sinyal "SOS" (... --- ...), yaitu kode yang digunakan sebagai tanda adanya bahaya yang telah disepakati oleh berbagai perjanjian maritim internasional, dan di beberapa negara dan wilayah menggunakan tanda ini di luar situasi gawat darurat dapat berakibat kepada ancaman hukuman. Kapal yang berada dalam bahaya dapat mengirimkan tanda ini sebagai sinyal darurat, baik dalam bentuk sinyal radio, lampu tanda, peluit atau bendera.

Metode dan cara penggunaan[sunting | sunting sumber]

Durasi pengiriman kode morse diukur dalam satuan Kata Per Menit (word per minute; disingkat WPM), dan berkisar di antara 8-50 WPM di dalam penggunaannya secara umum melalui jaringan radio atau media lain.

Kode morse dalam kepramukaan[sunting | sunting sumber]

Kode morse juga digunakan dan dipelajari di dunia kepramukaan atau kepanduan. Dalam dunia kepramukaan kode morse disampaikan menggunakan senter atau peluit pramuka. Kode morse disampaikan dengan cara menuip peluit dengan durasi pendek untuk mewakili titik dan meniup peluit dengan durasi panjang untuk mewakili garis.
Untuk menghafalkan kode ini digunakan metode yang mengelompokkan huruf-huruf berdasarkan bagaimana huruf ini diwakili oleh kode morsenya. Pengelompokan tersebut antara lain Alphabet dengan kode morse yang berkebalikan antara titik dan garis, misalnya huruf K yang diwakili oleh -.- berkebalikan dengan huruf R yang diwakili oleh .-. dan alfabet dengan kode morse berlawanan. Misalnya, huruf A yang diwakili oleh .- dan huruf N yang diwakili oleh -..
Kemampuan menerima dan mengirimkan kode morse merupakan salah satu dari kecakapan yang dapat menerima Tanda Kecakapan Khusus. Kode morse juga digunakan sebagai kunci dalam memecahkan Sandi Rumput.

Alfabet dalam kode morse[sunting | sunting sumber]

  • A • –
  • B – • • •
  • C – • – •
  • D – • •
  • E •
  • F • • – •
  • G – – •
  • H • • • •
  • I • •
  • J • – – –
  • K – • –
  • L • – • •
  • M – –
  • N – •
  • O – – –
  • P • – – •
  • Q – – • –
  • R • – •
  • S • • •
  • T –
  • U • • –
  • V • • • –
  • W • – –
  • X – • • –
  • Y – • – –
  • Z – – • •
Tanda Baca :
  • . • – • – • –
  • , – – • • – –
  • : – – – • • •
  • - – • • • • –
  • / – • • – •
Angka :
  • 1 • – – – –
  • 2 • • – – –
  • 3 • • • – –
  • 4 • • • • –
  • 5 • • • • •
  • 6 – • • • •
  • 7 – – • • •
  • 8 – – – • •
  • 9 – – – – •
  • 0 – – – – –

Metode memorisasi[sunting | sunting sumber]

Beberapa metode umum digunakan untuk memudahkan penghafalan kode ini, baik visual, auditori dan metode lain yang masih terus berkembang.

Metode Koch[sunting | sunting sumber]

Metode Koch adalah metode pembelajaran pengiriman kode morse dengan sistem gradual. Latihan dengan metode Koch dimulai dengan menggunakan dua huruf yang diulang terus menerus[3] (umumnya E dan T untuk alasan pembiasaan dengan interval). Setelah seseorang menguasai dua huruf ini dan dapat membaca maupun mengirimkannya dengan cepat, maka satu huruf ditambahkan, dan seterusnya hingga seseorang yang mempelajari kode morse dapat menguasai pembacaan maupun pengiriman kode melalui pembiasaan.

Metode substitusi[sunting | sunting sumber]

Metode ini umum digunakan di kepramukaan Indonesia, yaitu dengan membuat padanan kata yang berawal dari alfabet latin, dan setiap O mewakili garis ( - ), dan setiap huruf vokal lain mewakili titik (.)
A : Ano. -
B : Bonaparte- . . .
C : Coba - coba- . – .
D : Dominan- . .
E : Egg.
F : Father Joe. . – .
G : Golongan- – .
H : Himalaya. . . .
I : Islam. .
J : Jago loro. – - -
K : Komando- . -
L : Lemonade. – . .
M : Motor- -
N : Notes- .
O : Omoto- – -
P : Pertolongan. – - .
Q : Qomokaro- – . -
R : Rasove. – .
S : Sahara. . .
T : Ton-
U : U'nesco. . -
V : Versikaro. . . -
W : Winoto. – -
X : Xosendero- . . -
Y : Yosimoto- . – -
Z : Zoroaster- –


Pengelompokan[sunting | sunting sumber]

Metode yang mengelompokkan huruf-huruf berdasarkan bagaimana huruf ini diwakili oleh kode morsenya. Pengelompokan tersebut antara lain Alphabet dengan kode morse yang berkebalikan antara titik dan garis, misalnya huruf K yang diwakili oleh -.- berkebalikan dengan huruf R yang diwakili oleh .-. dan alfabet dengan kode morse berlawanan. Misalnya, huruf A yang diwakili oleh .- dan huruf N yang diwakili oleh -.
Alfabet dengan kode morse yang berkebalikan
AlfabetMorseAlfabetMorse
E.T-
I..M--
S...O---
H....KH----
AlfabetMorseAlfabetMorse
K-.-R.-.
X-..-P.--.
Alphabet dengan kode morse yang berlawanan
AlfabetMorseAlfabetMorse
A.-N-.
U..-D-..
V...-B-...
AlfabetMorseAlfabetMorse
W.--G--.
F..-.L.-..
Y-.--Q--.-
Tidak memiliki pasangan
AlfabetMorse
C-.-.
J.---
Z--..
Penghafalan dilakukan secara kelompok huruf EISH TMOKH, AUV NDB, WFY GLQ CJZ
E   = .         T   = _           R   = ._.      F   = .._.
I   = ..        M   = _ _         K   = _._      L   = ._..
S   = ...       O   = _ _ _       W   = ._ _     Q   = _ _._
H   = ....      KH  = _ _ _ _     G   = _ _.     Y   = _._ _ 
A   = ._        N   = _.          C   = _._.      X   = _.._
U   = .._       D   = _..         J   = ._ _ _    P   =._ _.
V   = ..._      B   = _...        Z   = _ _ ..

Perkembangan[sunting | sunting sumber]

Beberapa metode lain masih dikembangkan untuk mempermudah penghafalan kode morse, seperti tabel morse, podcast online, dan "lagu morse" yang mempermudah pendangkapan dengan pendengaran.

Minggu, 11 Januari 2015

AMANAT PRESIDEN SOEKARNO DI DEPAN PARA PRAMUKA TANGGAL 14 AGUSTUS 1961

AMANAT PRESIDEN SUKARNO DI DEPAN PARA PRAMUKA
TANGGAL 14 AGUSTUS 1961



Gerakan Pramuka sebagai anak kandung revolusi yang menjadi
milik seluruh Bangsa Indonesia dan yang mendapat tuga membangun
manusia baru yang ber-Pancasila, pada tanggal 14 Agustus 1961
dengan resmi diperkenalkan kepada seluruh rakhat Indonesia secara
simbolis, dengan “Pawai Perkenalan” di hadapan PYM
Presiden/Pramuka Tertinggi di muka Istana Merdeka Jakarta dan
dengan diikuti demonstrasi-demonstrasi kegiatan di Stadion Ikada
(Lapangan Monas, sekarang) – Jakarta.
Pada peristiwa bersejarah itu PYM Presiden
memberikan amanat kepada seluruh warga Gerakan Pramuka yang
akan memikul tanggung jawab terlaksananya cita-cita bangsa
Indonesia.
(Disadur oleh Rochman Setyawan dari buku Pedoman Gerakan Pramuka, PN.Pertjetakan
Negara RI. Djkt.154.B-’63 hal 59 – 65, huruf disesuaikan dengan EYD; mohon maaf jika
ada kesalahan ketikan.)
Anak-anakku sekalian.
Sukar bagi saya untuk melukiskan terharunya hati saya,
terharu melihat kamu sekalian berdiri di hadapan saya sebagai
“wakil-wakil” daripada Gerakan Pramuka yang pada hari-hari
sekeliling 17 Agustus 1961 ini berada atau dikirim ke Jakarta. Saya
katakan “wakil-wakil” sebab saya mengetahui bahwa di luar Jakarta
ini masih banyak sekali pemuda-pemudi Pramuka yang sudah
barang tentu semuanya bisa hadir di Jakarta pada hari-hari dekat 17
Agustus 1961 ini. Apa sebab saya terharu? Saya terharu oleh karena
saya teringat pada Amanat Penderitaan Rakyat.
Apa itu, Amanat Penderitaan Rakyat? Amanat Penderitaan Rakyat adalah suatu amanat yang diberikan oleh
rakyat kepada kita yang masih hidup sekarang ini, yaitu amanat agar supaya apa yang mereka deritakan hendaknya kita usahakan agar supaya menjadi satu kenyataan. Saya katakan tadi: apa yang mereka deritakan, sebab memang
rakyat Indonesia itu di masa-masa yang lampau telah banyak sekali menderita, banyak sekali mempersembahkan
korbanan-korbanan yang hebat di atas persada Ibu Pertiwi. Untuk apa? Tak lain tak bukan ialah mereka menderita dan
mereka memberi korbanan-korbanan itu, agar supaya mereka bisa hidup, pertama di dalam satu Negara yang bebas
dan merdeka, kedua agar supaya mereka hidup bahagia di dalam negaranya sendiri yang bebas merdeka itu. Saya
ulang: pertama dus merdeka telah menderita, menderita dengan macam-macam penderitaan. Ada yang menderita
dimasukkan dalam penjara, ada yang menderita didrel mati, ada yang menderita dibakar rumahnya sendiri di dalam
peperangan gerilya, ada yang menderita kehilangan anaknya atau suaminya, ada yang menderita harta-bendanya
habis. Ludes di dalam revolusi. Tetapi mereka menderita itu dengan satu keyakinan yang teguh, bahwa nanti pada satu
hari, apa yang mereka deritakan dan apa yang mereka korbani itu akan menjadi satu kenyataan. Yaitu sebagai tadi
saya katakan, pertama agar supaya tanah airnya ini, bangsanya ini menjadi satu tanah air dan bangsa yang merdeka,
bebas, dihormati oleh seluruh manusia di muka bumi; kedua, agar supaya mereka, rakyat Indonesia itu, hidup di dalam
satu masyarakat yang memberi kebahagiaan kepada mereka.
Di dalam istilah kita sekarang : satu masyarakat yang adil dan makmur. Nah, ini anak-anakku sekalian yang
membuat hati saya terharu, oleh kita, jikalau kita memang benar-benar pada waktu sekarang ini merasa diri kita ini
pemuda dan pemudi Indonesia, dan bagi kami yang tua ini, merasa bahwa diri kami itu adalah – diri kami, orang-orang
tua – semuanya bertanggung jawab atas terlaksananya amanat yang diberikan oleh rakyat kepada kita dengan
penderitaannya itu, jikalau benar-benar kita, baik pemuda-pemudi maupun orang-orang tua merasakan dengan
sedalam-dalamnya perasaan bahwa pertanggungan-jawab adalah di dalam kalbu kita
dan bahwa pertanggungan-jawab itu adalah di atas pundak kita, maka Insya
Allah S.W.T, apa yang dideritakan oleh rakyat, apa yang
dikorbankan oleh rakyat, yaitu amanat penderitaan rakyat itu
akan bisa menjadi suatu kenyataan di dalam waktu yang
singkat. Karena apa saya terharu ingat kepada amanat
penderitaan rakyat, pada waktu saya berhadapan dengan
kamu sekalian? Saya terharu ingat kepada amanat penderitaan
rakyat pada waktu saya berhadapan dengan kamu sekalian,
oleh karena di wajahmu-lah saya melilhat hari kemudian Indonesia. Jikalau
aku memandang akan wajahmu, maka sebenarnya aku tidak lagi melihat muka
kanak-kanak, muka manusia-manusia, tetapi aku melihat wajah bangsa Indonesia di kemudian hari, wajah rakyat
Indonesia di kemudian hari, rakyat Indonesia yang hidup bahagia, rakyat Indoensia yang tidak ada lagi yang kelaparan,
rakyat Indonesia yang semuanya cerdas, rakyat Indonesia yang ber-rumah layak, rakyat Indonesia yang merasa
berbahagia hidup di dalam tanah air Indonesia, rakyat Indonesia yang bisa merasa bangga bahwa tanah airnya adalah
tanah air yang merdeka, rakyat Indonesia yang mempunyai Republik yang dihormati oleh seluruh bangsa-bangsa di
dunia ini, rakyat Indonesia yang mempunyai bendara Sang Merah-Putih yang bukan saja dihoramti oleh dia sendiri,
rakyat Indonesia, tetapi juga dihormati oleh seluruh bangsa-bangsa di seluruh dunia. Nah, ini yang terbayang di
hadapan khayal mataku, anak-anakku sekalian. Maka oleh karena itulah Bapak terharu waktu Bapak melihat wajahwajahmu.
Tinggal aku sekarang menanya padamu sekalian, yang di wajahmu itu aku melihat hari kemudian Indonesia,
pemenuhan dari pada amanat penderitaan rakyat Indonesia yang merdeka bebas, Indonesia yang bahagia. Aku
bertanya kepadamu, sekali lagi yang di atas wajahmulah aku melihat kebahagiaan di kemudian hari itu : Apakah
engkau sekalian merasa benar-benar bahwa engkau sekalian adalah hari kemudian Indonesia? Bahwa engkau sekalian
memikul tanggung jawab bagi hari kemudian, bahwa engkau sekalian sebenarnya penyelenggara daripada Amanat
Penderitaan Rakyat? Saya kira kamu mempunyai keyakinan dan rasa yang demikian itu, sebab kamu masuk di dalam
Gerakan Pramuka. Gerakan Pramuka ini dengan sengaja diadakan untuk menyelenggarakan amanat penderitaan rakyat, dan sebagai tadi Bapak katakan anggota-anggota bapak-bapakmu, ibu-ibumu, yang menjadi anggota-anggota
Majelis Pimpinan Nasional daripada Gerakan Pramuka, sebagai tadi saya katakan : Bangsa yang ingin membangun,
bangsa yang ingin mempunyai masyarakat yang adil dan makmur, bangsa yang ingin memberikan kebahagiaan kepada
dirinya sendiri, hanya bangsa yang mempersiapkan pemuda-pemudinya mengikut-sertakan pemuda dan pemudinya di
dalam pembangunan, bangsa yang demikian itulah pasti akan mencapai apa yang dicita-citakan.
Engkau sebagai pemuda-pemudi barangkali telah mendengar dan mengetahui, bahwa kita ini sedang
menjalankan satu perjuangan yang maha hebat, yang membangunkan kekaguman daripada seluruh dunia, yang
membuat mata dunia ditujukan kepada Indonesia, yaitu perjuangan maha hebat di lapangan politik dan di lapangan
sosial. Di lapangan politik untuk memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik dan kita telah bertekad
untuk memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik. Di dalam lapangan sosial untuk mendirikan satu
masyarakat adil dan makmur, atau di dalam istilah sekarang dinamakan sosialis Indonesia, Sosialisme Indonesia. Satu
masyarakat yang adil dan makmur, satu masyarakat yang memberi kebahagiaan kepada semua anggota bangsa
Indonesia. Satu masyarakat yang tiada kemiskinan di dalamnya, satu masyarakat yang semua orang hidup dengan bisa
memenuhi segala kebutuhan hidup. Perjuangan yang maha hebat ini sedang kita jalankan. Tetapi, sebagaimana juga
perjuangan di lapangan politik : dulu membebaskan Indonesia daripada cengkeraman asing, sekarang di hadapan kita
masih membebaskan Irian Barat daripada cengkeraman asing pula; manakala sebagaimana di lapangan politik itu tidak
bisa begitu saja jatuh dari langit sebagi air embun di waktu malam, tetapi harus kita perjuangkan, harus kita
perjuangkan dengan memeras kita punya tenaga, memeras kita punya keringat; membajakan kita punya tekad di
dalam kalbu kita ini, perjuangan yang demikian itu harus kita jalankan, sebab tidak ada satu bangsa yang bisa
mencapai kemerdekaan tanpa perjuangan. Sebagaimana di lapangan politik kita harus berjuang membanting tulang,
memeras kita punya tenaga, maka di lapangan sosial pun kita harus berjuang, membanting tulang, memeras kita
punya tenaga. Juga masyarakat yang adil dan makmur tidak jatuh begitu saja dari langit seperti air embun di waktu
malam. Teapi kita semua harus bekerja, membanting kita punya tulang, memeras kita punya tenaga,
menyelenggarakan masyarakat yang adil dan makmur itu. Dan penyelenggaraan ini tidak hanya bagian daripada Bung
Karno atau Pak Sultan atau daripada Bapak-bapak tua yang lain, daripada pemimpin-pemimpin di daerah, daripada
orang-orang yang sudah dewasa. Tidak ! sebagai tadi saya katakan, hanya bangsa yang sudah mengikut-sertakan
pemuda dan pemudinya, mempersiapkan pemuda-pemudi untuk pembangunan, bangsa yang demikian itulah bisa
mendatangkan satu masyarakat yang adil dan makmur.
Nah, untuk itu diadakan Gerakan Pramuka, anak-anakku sekalian. Untuk itu diadakan Gerakan Pramuka. Engkau
dipersiapkan untuk pembangunan semesta yang sehebat-hebatnya. Engkau
dipersiapkan menjadi warga-negara Republik Indonesia yang setinggitingginya, nilai dan mutu. Karena itu engkau sebagai anggota Pramuka
harus benar-benar merasa tanggung jawab itu. Tadi aku beri
panji kepada Gerakan Pramuka. Namanya saja lambang Kehormatan.
Sudahkah engkau menerima panji ini sebagai Lambang
Kehormatan? Bukan sekedar secarik kain dicoret-coret di atasnya,
tetapi Lambang Kehormatan! Sehingga engkau jikalau ada orang
menanya kepadamu : Hai engkau pemuda apa, hai engkau pemuda apa;
jawablah : Aku pemuda-pemudi Pramuka, adalah satu jawab kehormatan, barulah
engkau benar-benar mempunya jiwa Pramuka yang semulia-mulianya.
Yang kecil-kecil di antara kau, di antara kau yang masih kecil, sekolahlah, belajarlah sebaik-baiknya, menjadilah
murid-murid yang cakap dan pandai.Yang lebih besar; persiapkan dirimu untuk mengetahui segala garis-garis besar daripada pembangunan. Yang
paling besar pula, antara 17 dan 20 tahun, di bidangmu sendiri-sendiri, ikutlah di dalam pembangunan ini! Itu corak
daripada Gerakan Pramuka. Engkau bukan lagi Pandu biasa. Engkau adalah Pramuka. Jaman dahulu, jikalau menjadi
pandu, jadilah asal bisa berbaris, jaman dahulu menjadi pandu ya asal bisa mengikat tali. Jaman dahulu pandu asal bisa
membuat api unggun. Jaman dahulu jadi pandu asal bisa yell. Sekarang lebih daripada itu, hai anak-anakku sekalian.
Engkau sebagai Pramuka dipersiapkan untuk pembangunan, untuk mengerti pembangunan, untuk mengetahui apa
yang akan kita bangun.
Maka, hai anak-anakku sekalian, sejak daripada ini
hari yang Pramuka dengan resmi bergerak di bumi Indonesia,
aku minta supaya engkau benar- benar menjadi Gerakan
Pramuka yang sehebat-hebatnya, menjadi pembantu daripada
Pembangunan Indonesia. Aku minta kepadamu agar
supaya jumlah Pramuka makin lama makin banyak.
Sekarang ini kurang lebih setengah juta Pramuka. Kurang, jauh
kurang setengah juta itu. Setengah juta jadikan satu juta, satu
juta jadikan dua juta, dua juta jadikan tiga juta, tiga juta
jadikan empat juta, empat juta jadikan lima juta, terus .................. Kata
dalang-dalang seperti Adji Tjondrobirowo, makin lama makin banyak. Jikalau Gerakan Pramuka seperti mempunyai
Adji Tjondrobirowo, bangsa Indonesia akan menjadi satu bangsa yang jaya.
Sekian. Saya do’akan Tuhan memberi berkah kepadamu.