Adyaksa Dault Ketua Kwarnas Pramuka 2013-2018
Gerakan Pramuka baru saja
merampungkan gelaran Musyawarah Nasional Pramuka di Kupang NTT yang
sudah dimulai sejak tanggal 3 Desember. Munas yang sedianya akan dibuka
oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono akhirnya hanya dibuka oleh Menpora
Roy Suryo.
Menpora Roy Suryo Menyerahkan Penghargaan Kepada Ka Kwarda Jawa Tengah di acara Pembukaan Munas Pramuka (pramuka.or.id)
Selain melakukan evaluasi dan
pertanggungjawaban kepengurusan Kwarnas periode sebelumnya, agenda yang
paling menjadi perhatian peserta adalah pemilihan ketua Kwarnas yang
baru. Setelah melakukan proses pemilihan maka terpilihlah Adyaksa Dault
(mantan Menpora) sebagai Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka periode
2013-2018 menggantikan Azrul Azwar dengan 17 suara mengalahkan calon
lainnya yaitu Dede Yusuf Macan Efendi (ka Kwarda Jabar dan mantan Wagub
Jabar), Eris Heryanto ( Wakil Ketua Kwarnas), Jana Tjahjana
Aanggadiredja (Mantan Waka Kwarnas), Syahrul Yasin Limpo (Gubernur dan
Kakwarda Sulawesi Selatan), dan Nanan Sukarna (Mantan Waka Polri).
Pramuka sebagai gerakan kepemudaan
memiliki peran yang sangat strategis dalam pembentukan karakter bangsa.
Terlebih dukungan dari kebijakan Kementerian pendidikan Nasional yang
mewajibkan Gerakan Pramuka sebagai program ekstrakurikuler wajib di
setiap sekolah. Sebab pendidikan karakter tidak melulu bisa dibentuk
dalam pembelajaran dikelas. Program-program kegiatan dalam pramuka
sangat mendukung pembentukan karakter siswa. Hanya saja dalam
pelaksanaannya saat ini pramuka seakan kehilangan jati dirinya dalam
mengambil peran besar pada pendidikan karakter.
Suka atau tidak, pramuka sering di
salahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk
memuluskan kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompoknya. Sedikit
banyak hal ini terlihat dari calon-calon ketua Kwarnas yang maju dalam
pemilihan ketua di Munas 2013 ini. Sebagian besar adalah
individu-individu yang kental aktivitas politiknya termasuk diantaranya
ketua terpilih.
Melihat track record Adyaksa dault
sebagai ketua terpilih gerakan pramuka dan terlepas dari latar belakang
politiknya maka ada sedikit harapan bahwa Gerakan pramuka akan mampu
memfungsikan kembali mesin-mesin gerakannya sebagai kendaraan vital
dalam pembentukan karakter anak bangsa. Bukan mesin yang hidup untuk
menggerakkan ambisi-ambisi politik individu dan golongan tertentu.
Sebab, bangsa ini sudah terlalu lama
kehilangan kendaraan yang nyaman ditumpangi untuk memfasilitasi proses
pembentukan karakter bangsa yang secara eksplisit tertuang dalam
dasadarma pramuka. arsad
Jakarta, 5 Desember 2013